Minggu, 01 April 2012

cerita di lapangan basket (sorry...)

CERITA DI LAPANGAN BASKET
(SORRY…)
            “Ngetik apaan?” tanya Yoga tiba-tiba dan menepuk pundakku pelan sambil menyodorkan teh kotak dingin.
            “Cerpen.” Jawabku singkat, Yoga mengerutkan keningnya sehingga tampak 2 lipatan di dahinya. “Gak mau diganggu ya?” tanyanya lagi. “Menurutmu?”, sepertinya aku memang tak ingin diganggu. Aku sengaja memilih bangku panjang di samping kelas X Marketing 1 yang mana kelas ini berada di pojok sekolah. Dan memang menginginkan ketenangan saat itu. Aku sedang mengerjakan cerpen baru ku. Seperti mengerti pemikiran ku, ia beranjak dari tempat ia duduk, menaruh minuman dingin itu tepat disamping aku duduk, kemudian berjalan menjauh. Sayup-sayup aku mendengar, suara Yoga, kecil tapi pasti. Gak pernah punya waktu untukku!. Aku menghentikan jari-jariku yang sedang menari diatas keyboard laptop. Memandang punggung tegap milik Yoga pergi menjauh dan hilang di balik tikungan menuju lapangan. Seketika ku save cerpen ku dan men-close jendela word ku. Wallpaper laptop ku terlihat bebas, terpampang gambar ku dan seorang lelaki yang mirip dengan Yoga sedang berfoto narsis di depan webcam. Ada satu foto dimana sang lelaki mengecup lembut keningku. Dan lelaki difoto itu memang Yoga.
            Aku tak pernah punya waktu untuknya? Aku merapikan tas dan berlari kecil mengejar Yoga. Tapi kemudian aku kembali lagi ke tempat aku duduk untuk mengambil minuman kesukaan ku yang diberikan Yoga. Ku lihat Yoga sedang bermain basket sendiri. Tembakan three point dapat dengan mudah ia lakukan. Ekspresi wajahnya tenang, ia mendrible bola melewati kaki-kakinya dan Pluk.. sekali lagi bola itu masuk ke dalam keranjang dengan nilai 3 poin.
            Aku ingat, saat 2 tahun lalu. Ia menyatakan rasa sukanya di lapangan basket ini. Aku meminta syarat untuk memasukkan 10 bola ke dalam ring tanpa cela. Dan dengan mudah sekali ia lakukan. Setelah melakukannya ia berteriak, “Restiana! Kamu mau gak jadi pacarku?”. Dan kejadian itu disaksikan oleh teman-teman sepermainannya juga Annisa sahabatku. Annisa berteriak “Aku mauuu!”, dan saat itu juga. Ingin rasanya aku melayangkan tas tangan yang ku bawa tepat di muka Annisa karena kepedeannya. Ehm, saat terindah dalam hidupku. Yoga, sang idola basket menyukai ku?
            Dan kejadian setahun lalu, saat ada pertandingan Pra-DBL di sekolah kami. Sekolah kami menang dengan skor tipis 54-57 dengan sekolah tetangga. Final Pra-DBL sangat meriah. Kegiatan berlangsung hingga pukul 9 malam. Dan seusai pertandingan, ia berlari ke arahku yang berdiri di sudut lapangan bersama teman-temanku yang lain dan memelukku erat. Aku berusaha berontak, bukan karena aku malu karena dilihat teman-teman ku. Tapi karena aku sangat membenci aroma keringat dan lengketnya cairan yang keluar dari tubuh itu. Dan keringat di tangannya berpindah ke tanganku. Walau aroma keringat Yoga tidak seperti lelaki pada umumnya. Tetap aku membenci keringat. Teman-teman ku bersorak dengan kejadian itu. Secara tak sadar, pipi ku bersemu merah. Layaknya udang yang baru direbus.
            “Astaga! Aku lupa kamu gak suka keringat ya.” kontan Yoga melepas pelukannya dan memegangi kedua pundakku. “Gak mabok kan?” tanyanya lagi. Aku hanya bisa tersenyum dan balik memelukknya. Aku sayang kamu Yoga batinku. Dan kini gantian Yoga yang berontak karena ia malu diperhatikan oleh banyak pasang mata.
            Waktu telah menunjukkan pukul 9 lewat 45 menit. Kini aku dan dia dalam perjalanan pulang. Di atas motornya, aku tersenyum riang. Angin malam mengibarkan rambut panjang ku dan membelai lembut kedua pipiku. Yoga tak henti-hentinya bercerita tentang bagaimana dia mem-blok lawan dan merebut bola. Bagaimana dia mengecoh lawan main. Ia begitu bersemangat menceritakan jalannya pertandingan. Saat pertandingan, aku berusaha jadi yang paling nyaring saat menyebutkan namanya. Berusaha jadi yang terdepan saat menyaksikan bagaimana dia menembakkan bola ke dalam ring.
            Tiba-tiba motor yang kami kendarai mati. Dan rumah ku sekitar 2 blok dari situ. Jalanan sudah sepi. Penjual bensin eceran yang biasanya buka di dekat pos ronda di depan lapangan basket Rajawali sudah tutup.
            “ Ah! Bensinnya habis Na! Ancrit! Sial!” umpat Yoga. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Ia mencoba untuk men-starter kembali motor Vario Techno-nya. Tapi tak juga menyala mesinnya.
            “ Ahaha. Yoga sayang..  kan bensinnya habis. Kenapa pake distarter lagi? Rumah ku juga udah deket. Papa ada cadangan bensin juga. Ayok..” Ucapku. Kebetulan kami berhenti di depan lapangan basket Rajawali. Tempat favorit Yoga jika ia sedang ada masalah. Dan yahh, baru 3 bulan terakhir. Saat ia sedang bertengkar dengan Papanya. Hingga larut malam ia belum pulang. Aku selalu bisa menemukannya, aku menemukannya duduk bersender di bawah ring dengan bola basket di tangan kirinya. Jari tangan kanannya menjepit sebatang rokok, dan kemudian ia menghisap rokoknya kuat-kuat. Asap putih tebal membumbung tinggi dan kemudian hilang terbawa angin. Yoga tidak menyadari kehadiranku. Ku lirik jam yang melingkar di tangan kanan ku. Jam 12 malam. Huftt. Aku berbohong pada Mama, jika aku menginap di rumah Annisa. Tapi nyatanya kini aku bersama Yoga. Menyadari keberadaan ku, Yoga membuang puntung rokoknya dan dengan cepat menghampiriku yang berdiri di samping motornya. Seperti biasa, ia memegang erat kedua pundakku kemudian merengkuh ku dalam pelukannya.
            “Ini sudah larut malam Ana! Kenapa bisa disini!” ucapnya sambil terus mendekapku dengan tangan-tangan kuat dan dalam dada lebarnya. Aku merasa nyaman saat itu. Raga yang setia menjaga ku selama 2 tahun terakhir ini.
            “Aku cemas.” Ucapku pelan kemudian membalas pelukan Yoga. Aroma rokok begitu menyengat ku rasakan, aroma rokok adalah hal kedua yang ku benci setelah keringat. Tapi aku tidak perduli, aku begitu mencemaskan Yoga. Aku takut ia akan berbuat nekat. Seperti bunuh diri, atau kebut-kebut’an di jalan. Ahh, aku terlalu mencemaskannya. Hingga aku berpikir seperti itu. Yang penting ia tak apa-apa. Aku begitu mencemaskannya, begitu menyayanginya.
            Saat ini..
Ku lihat Yoga masih terus mendrible bola-bolanya. Sambil terus memperhatikan ring basket yang berjarak 3 meter dari hadapannya. Dan pandangannya beralih padaku. Aku tersenyum kikuk. Kaki-kaki ku tiba-tiba bergerak menuju ke tempat ia berada. Tapi hatiku berontak. Menyebabkan butiran air mengalir lembut membasahi pipiku. Aku belum sanggup batinku.
            “ Hai. Sudah selesai cerpennya?” tanya Yoga kemudian memasukkan bola ke dalam ring. Bola memantul-mantul dan menggelinding ke arahku. Aku memungut bola tersebut, meletakkan tas ku kemudian ikut melempar bola ke dalam ring. Masuk! Walau sempat bola mengitari ring dahulu sebelum masuk. Yoga tersenyum, “Udah jago rupanya.”
            “Ehm, ini juga berkat kamu.” Jawabku. Air mata kian membanjiri. Aku tak dapat menahan tangis ini lagi. Yoga kebingungan, “ Eh, aku salah ya? kok nangis?”. Aku gak bisa, aku gak bisa bilang kalo sehabis lulus dari sekolah ini, aku akan menyusul kakak ku untuk melanjutkan study ke Belanda. Aku terlalu rapuh untuk menyatakannya pada Yoga. Dan aku ingat, dibawah pohon di samping ring. Kami pernah berjanji akan bersama-sama masuk ke Universitas yang sama. Aku ingkar, aku ingkar, maaf Yoga.
            Jari telunjuknya menghapus pelan air mata yang jatuh di pipiku. “Ada masalah ya Na. cerita dong.”, kemudian mengambil tasku dan menuntun ku ke bangku yang ada di bawah pohon. Aku hanya bisa menggeleng pelan. Itu sebabnya pula, mengapa aku menjauhi Yoga sudah 2 minggu ini. Dan 2 minggu pula aku merasakan rasa sakit akibat ulahku sendiri. Setiap Yoga ke rumah, aku selalu punya beribu alasan untuk tidak bertemu dengannya. Setiap dia mengajak ku jalan, aku selalu punya berbagai macam cara untuk menolaknya pula.
            Apa yang aku lakukan, karena aku tak ingin dia terlalu mengenang hari-hari yang telah kami lewati bersama. Mungkin ini egois dan yaa memang egois. Aku hanya memikirkan diriku sendiri, tanpa perduli pada perasaan Yoga. Dan kini Yoga masih menunggu ku untuk berbicara.
            “Yoga..”, aku menyentuh lengannya. Ia tersenyum, “Ya. Kenapa Na?”
Senyum itu, senyum itu membuat dadaku sesak, makin sesak. Aku akan merindukan senyum itu. Pasti!. Aku tak bisa melanjutkan perkataan ku, memilih bungkam dan diam. Yoga menyenderkan kepalanya di pundakku. “Akhir-akhir ini kamu beda dari yang biasanya Na. Kenapa? Mau cerita?”, aku menggeleng kuat. Yoga menghembuskan nafas kesal. Ia menegakkan kepalanya lagi, “ Huft. Aku udah tahu kok. Kamu mau ke Belanda kan? Nyusul ka Dafa?”.
            Pernyataan Yoga membuat ku tersentak. Aku menoleh cepat ke arahnya. Ia memandangi lapangan basket dengan tatapan kosong. “Ya gak apa-apa lagi. Kan bagus dong.” Yoga melanjutkan perkataannya. Aku masih diam termangu. Mulutku terbuka. Tak percaya dengan apa yang barusan ia katakan.
            “Aku gak bakal balik lagi Yoga! Mama Papa juga ikut pindah kesana!” aku geram, bisa-bisanya dia setenang ini. Aku mulai berpikir bahwa ia tak lagi sayang padaku. Atau, aku yang kurang sayang padanya?
            “Ana. Aku harus gimana? Ini juga kehendak Oom sama Tante kan?”, jawab Yoga, ia sangat tenang mengucapkannya. Yoga! Kamu udah gak sayang lagi sama aku, tangisku menjadi. Aku menutup muka dengan kedua tanganku, tak ingin ku biarkan air mata ku terlihat olehnya. Tapi itu sia-sia, air mata merembet dan membasahi kedua telapak tangan ku.
            “Bukannya aku gak sayang lagi sama kamu Na. Tapi apapun yang orang tua lakukan untuk anaknya, gak lain dan gak bukan itu adalah yang terbaik kan? Aku tetap sayang kok sama kamu. Its fine kalo misalnya hubungan ini putus sampai disini. Apa yang terbaik untukmu, itu juga untukku. Jangan juga kamu menentang Mama Papa mu. Kalo disana baik-baik ya, jangan nakal.” Jawab Yoga lagi seolah ia mengerti. Kemudian menarikku dan memelukku dengan kuat, sama halnya yang ia lakukan saat malam itu, ketika ia lari dari rumah. Degup jantung Yoga bergemuruh, berpacu dengan degup jantung ku. Ingin rasanya aku menghentikan waktu, dan membiarkan kami untuk terus bersama. Walau hanya untuk saat ini. Membiarkan kami terus untuk tetap bersama.
            “Sorry.” Ucapku pelan masih dalam tangisan ku. Yoga meremas lembut pundakku. Menghirup pelan aroma rambutku dan mengecup keningku. Senyumnya mengembang. Hatiku lega. “Sorry accepted! Love You Na.” kembali ia merengkuh ku dalam hangat tubuhnya. Keadaan sekolah sore itu juga sudah sepi. Di lapangan basket, Yoga menyatakan perasaannya, dan di lapangan basket ini juga, aku memupuskan harapan untuk terus bersamanya. Sorry.

Tidak ada komentar: